Zacky?!. Aku tak percaya dia berubah 180 derajat dari dirinya dulu. Aku mendekatinya. dan memegang wajahnya.
"Zacky Akasa?" Tanyaku pelan padanya. Dia mengangguk lembut. Kemudian dia memegang telapak tangan kiriku dan menaruhnya didadanya.
"Long time no see, Rebecca" Katanya lembut.
"Zacky... Zacky.." aku hanya bisa mengucapkan namanya saja.
"Hmm..." balasnya lembut.
"Benar kau ini Zacky yang aku kenal sepuluh tahun yang lalu?" ujarku sambil menatapnya dalam-dalam. Mata deep bluenya memamndang mata brunete ku yang penarasan itu.
"Tentu aku Zacky! kau boleh berntanya apa saja tentang aku dan masa lalu aku." ujarnya seraya tersenyum lembut.
"Well... baik lah, kau mengenal sepupumu sangat dekat dan baik,Harry, apa makanan kesukaannya?" tanyaku dengan sedikit menaikan nada.
"Mudah sekali nona cantik, makanan kesukaannya adalah berbagai macam pasta dari ITALIA, tapi dia begitu menyukai Lasagna, benar tidak? tuan putri?"
Chibion House
Sabtu, 22 Oktober 2011
Sabtu, 01 Oktober 2011
Sun shine on Winter
Pagi ini begitu dingin dengan suhu dibawah minus yang membekukan semua orang yang keluar. Hmmph.. aku hanya menggela nafas panjang dan mulai meulis di diary-ku.
"Dear diary, hari ini adalah hari pertunanganku yang amat aku benci. aku mencintai kawan lamaku, Edward bukan Zacky, anak teman papa yang katanya ganteng itu. Meskipun dia terbukti ngganteng akupun tak akan semudah itu jatuh cinta padanya. Upsssy! ada yang mengetuk pintu ruangan kita, Diary. akan aku ceritakan nanti lagi. Kiss- Rebbeca". Aku mengakhiri tulisan di diaryku dan menuju pintu kamarku yang sedari tadi diketuk keras.
"Kakak! sudah berapa lama kau mengurung diri dikamar bagaikan ingin mati didalam kamar dan..."
"Aster, cukup. Oke, kita berangkat" kataku sinis pada adik perempuanku yang lebih muda 3 tahun dari ku itu.
"Yasudah... lain kali harus cepat ya!"
"Iya iya bawel!" Jawabku ketus dan menuruni tangga. Gaun baby blue-ku seakan membersihkan lantai dari sisa-sisa langkah kekesalanku. Di ruang makan aku melihat adik bungsuku, Arnold yang berumur 5 tahun lebih muda.
"Ah... yo! kak Rebbeca" kata Arnold dengan mulut penuh dengan roti bakar. Aku hanya bergiggle ria. Dia adik laki-lakiku yang paling aku sayang, meskipun umurnya telah mencapai 20 tahun, aku tidak peduli. Dia manis,baik,dan lucu.Dengan tinggi 180cm dan berbadan sixpack. Cukup pantas jika dia menjadi Idola para cewek di kampusnya. Sedangkan Aster, dia berambut pirang kecoklatan dengan tinggi 170cm dan tubuh yang proposional, rambut panjangnya seakan menari saat ia mengibaskannya atau hanya sekedar tertiup angin. Sedangkan aku hanya berpostur 173 cm dengan rambut hitam legam panjang sebahu dan wanita tua berumur 25 tahun yang sedang murung tak ingin ditunangkan.
"Jadi, papa dan mama sudah nunggu disana?" tanyaku pada Arnold yang masih terus mengunyah roti dengan semangatnya.
"Uhhmpphh!..huk uhuk uhuk... iya" jawab Aenold gelagapan karena tersedak rotinya. Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya yang coklat itu. Dia bangkit dari tempat duduknya dan mulai mencari sesuatu dan Aster pun keluar setelah 10 menit berdandan.
"Kunci mobil, get it!" kata Arnold sambil berlari ke garasi dan mulai memanaskan mobil untuk kami berdua.
BMW bewarna merah milik Arnold telah siap kami naiki. Kami pun berangkat menuju tempat yang dibicarakan.
______________________________________
Sepanjang perjalanan aku mengingat masa lalu tentang bagaimana wajah Zacky. Setahuku dia mempunyai rambut hitam legam sepertiku dan bertubuh gendut tak karuan. Memakai kacamata bingkai silver menyala terang membuatnya makin jadi Fashion Disasster. Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu. Aku tak tahu bagaimana dia sekarang. Yang aku tahu dari papa dan mama adalah bahwa dia bekerja di suatu perusahan asing di Paris.
aku menggela nafas panjang dan mulai mengambil Galaxy S II-ku dan mulai memainkan lagu.
|I can’t get you off my mind...Give me the chance to love you...I’ll tell you the only reason why...Cause you are on my mind...I want to know you feel it...What do you see when you close your eyes...Cause you are on my mind| lantunan lagu daru Cody Simpson membuatku tersentak. Apakah Zacky berpikiran seperti lirik lagu ini?
Aku tahu, tapi yang aku ingini saat ini adalah, untuk tidak sampai ditempat itu sampai kapanpun, aku mencintai Edward... BUKAN Zacky!. Taoi kurasa itu hanya angan belaka, kami telah sampai dan mau tak mau aku harus memaksa diriku untuk turun. Mansion keluarga Akasa begitu besar.
"Selamat datang, nona Rebbeca, nona Aster, tuan Arnold, kami telah menunggu anda." kata kepala pelayan menyambut kami dengan ramah. Kami hanya mengangguk dan masuk kedalamnya.
"Ah....Rebbeca!" sahut seorang wanita berambut pirang lemon seusia denganku.
"Lucy!, kau datang?" tanyaku sambil memeluknya lembut. Lucy memelukku balik. Dia memandangku.
"Tentu aku datang! Zacky adalah sepupuku" balasnya sumringah. Aku terkejut dangan pernyataan sahabatku itu.
"Za...Zacky?" aku tergagap menyebut namanya.
"Iya, Zacky, dia..." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya seorang laki-laki berambut kemerahan mengampiri kami dengan seorang anak berambut kemerahan bermata coklat karamel.
"Rebbeca! lama tak jumpa, sejak SMA!" Sapanya riang.
"Oh, Natsu! Ogenki desu ka?" Sapaku sambil menjabat tangannya.
"Baik tentunya!" balasnya sambil menunjukan grin khasnya itu. Natsu adalah seorang manager di perusahan ternama di kota ini. Lelaki 26 tahun yang berdarah Inggris-Jepang sangatlah tampan dan tak banyak berubah dari masa SMA sampai sekarang hanya dia bertambah tinggi 4 cm dari yang aku kenal dulu.
"Ini...?" tanyaku pada Natsu. Natsu mengalihkan perhatiannya kearah anak yang aku tunjuk.
"Oh dia, dia Hitoshi, Putra pertama kami. Aku dan Lucy" jawabnya enteng.
"EH!... Kau dan Lucy..." kataku. Lucy hanya tersipu malu dan berusah untuk berbicara.
"Iya, Hito-chan anakku." jawab Lucy malu-malu.
"Kapan?! kenapa tak bilang-bilang!" tanyaku kesal.
"setahun yang lalu, sekarang Hito-chan sudah berusia 9 bulan" Kata Natsu bangga.
"Ahh.... Lucunya" kataku sambil be-Aww.
"Hehehe.... dia begiru lucu untuk anak seumurannya kan?"tanya Natsu dengan penuh kepercaya dirian.
"Lebih dari lucu!" jawabku dengan mengatupkan kedua telapak tanganku. Ingin sekali aku mencubit pipinya yang tembem tapi aku takut dia menangis.
"Rebbeca?" seseorang menyapaku. Aku menoleh kearahnya. Berambut hitam legam dan tinngi. Memakai kacamata silver.
"Siapa ya?" tanyaku dengan tanda tanya besar.
"Aku... Zacky Akasa, Rebecca Doughlas" jawab orang itu. Aku membelalakan mataku. Zacky?!
-To Be Continued-
"Dear diary, hari ini adalah hari pertunanganku yang amat aku benci. aku mencintai kawan lamaku, Edward bukan Zacky, anak teman papa yang katanya ganteng itu. Meskipun dia terbukti ngganteng akupun tak akan semudah itu jatuh cinta padanya. Upsssy! ada yang mengetuk pintu ruangan kita, Diary. akan aku ceritakan nanti lagi. Kiss- Rebbeca". Aku mengakhiri tulisan di diaryku dan menuju pintu kamarku yang sedari tadi diketuk keras.
"Kakak! sudah berapa lama kau mengurung diri dikamar bagaikan ingin mati didalam kamar dan..."
"Aster, cukup. Oke, kita berangkat" kataku sinis pada adik perempuanku yang lebih muda 3 tahun dari ku itu.
"Yasudah... lain kali harus cepat ya!"
"Iya iya bawel!" Jawabku ketus dan menuruni tangga. Gaun baby blue-ku seakan membersihkan lantai dari sisa-sisa langkah kekesalanku. Di ruang makan aku melihat adik bungsuku, Arnold yang berumur 5 tahun lebih muda.
"Ah... yo! kak Rebbeca" kata Arnold dengan mulut penuh dengan roti bakar. Aku hanya bergiggle ria. Dia adik laki-lakiku yang paling aku sayang, meskipun umurnya telah mencapai 20 tahun, aku tidak peduli. Dia manis,baik,dan lucu.Dengan tinggi 180cm dan berbadan sixpack. Cukup pantas jika dia menjadi Idola para cewek di kampusnya. Sedangkan Aster, dia berambut pirang kecoklatan dengan tinggi 170cm dan tubuh yang proposional, rambut panjangnya seakan menari saat ia mengibaskannya atau hanya sekedar tertiup angin. Sedangkan aku hanya berpostur 173 cm dengan rambut hitam legam panjang sebahu dan wanita tua berumur 25 tahun yang sedang murung tak ingin ditunangkan.
"Jadi, papa dan mama sudah nunggu disana?" tanyaku pada Arnold yang masih terus mengunyah roti dengan semangatnya.
"Uhhmpphh!..huk uhuk uhuk... iya" jawab Aenold gelagapan karena tersedak rotinya. Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya yang coklat itu. Dia bangkit dari tempat duduknya dan mulai mencari sesuatu dan Aster pun keluar setelah 10 menit berdandan.
"Kunci mobil, get it!" kata Arnold sambil berlari ke garasi dan mulai memanaskan mobil untuk kami berdua.
BMW bewarna merah milik Arnold telah siap kami naiki. Kami pun berangkat menuju tempat yang dibicarakan.
______________________________________
Sepanjang perjalanan aku mengingat masa lalu tentang bagaimana wajah Zacky. Setahuku dia mempunyai rambut hitam legam sepertiku dan bertubuh gendut tak karuan. Memakai kacamata bingkai silver menyala terang membuatnya makin jadi Fashion Disasster. Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu. Aku tak tahu bagaimana dia sekarang. Yang aku tahu dari papa dan mama adalah bahwa dia bekerja di suatu perusahan asing di Paris.
aku menggela nafas panjang dan mulai mengambil Galaxy S II-ku dan mulai memainkan lagu.
|I can’t get you off my mind...Give me the chance to love you...I’ll tell you the only reason why...Cause you are on my mind...I want to know you feel it...What do you see when you close your eyes...Cause you are on my mind| lantunan lagu daru Cody Simpson membuatku tersentak. Apakah Zacky berpikiran seperti lirik lagu ini?
Aku tahu, tapi yang aku ingini saat ini adalah, untuk tidak sampai ditempat itu sampai kapanpun, aku mencintai Edward... BUKAN Zacky!. Taoi kurasa itu hanya angan belaka, kami telah sampai dan mau tak mau aku harus memaksa diriku untuk turun. Mansion keluarga Akasa begitu besar.
"Selamat datang, nona Rebbeca, nona Aster, tuan Arnold, kami telah menunggu anda." kata kepala pelayan menyambut kami dengan ramah. Kami hanya mengangguk dan masuk kedalamnya.
"Ah....Rebbeca!" sahut seorang wanita berambut pirang lemon seusia denganku.
"Lucy!, kau datang?" tanyaku sambil memeluknya lembut. Lucy memelukku balik. Dia memandangku.
"Tentu aku datang! Zacky adalah sepupuku" balasnya sumringah. Aku terkejut dangan pernyataan sahabatku itu.
"Za...Zacky?" aku tergagap menyebut namanya.
"Iya, Zacky, dia..." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya seorang laki-laki berambut kemerahan mengampiri kami dengan seorang anak berambut kemerahan bermata coklat karamel.
"Rebbeca! lama tak jumpa, sejak SMA!" Sapanya riang.
"Oh, Natsu! Ogenki desu ka?" Sapaku sambil menjabat tangannya.
"Baik tentunya!" balasnya sambil menunjukan grin khasnya itu. Natsu adalah seorang manager di perusahan ternama di kota ini. Lelaki 26 tahun yang berdarah Inggris-Jepang sangatlah tampan dan tak banyak berubah dari masa SMA sampai sekarang hanya dia bertambah tinggi 4 cm dari yang aku kenal dulu.
"Ini...?" tanyaku pada Natsu. Natsu mengalihkan perhatiannya kearah anak yang aku tunjuk.
"Oh dia, dia Hitoshi, Putra pertama kami. Aku dan Lucy" jawabnya enteng.
"EH!... Kau dan Lucy..." kataku. Lucy hanya tersipu malu dan berusah untuk berbicara.
"Iya, Hito-chan anakku." jawab Lucy malu-malu.
"Kapan?! kenapa tak bilang-bilang!" tanyaku kesal.
"setahun yang lalu, sekarang Hito-chan sudah berusia 9 bulan" Kata Natsu bangga.
"Ahh.... Lucunya" kataku sambil be-Aww.
"Hehehe.... dia begiru lucu untuk anak seumurannya kan?"tanya Natsu dengan penuh kepercaya dirian.
"Lebih dari lucu!" jawabku dengan mengatupkan kedua telapak tanganku. Ingin sekali aku mencubit pipinya yang tembem tapi aku takut dia menangis.
"Rebbeca?" seseorang menyapaku. Aku menoleh kearahnya. Berambut hitam legam dan tinngi. Memakai kacamata silver.
"Siapa ya?" tanyaku dengan tanda tanya besar.
"Aku... Zacky Akasa, Rebecca Doughlas" jawab orang itu. Aku membelalakan mataku. Zacky?!
-To Be Continued-
Langganan:
Postingan (Atom)